Sebut
saja aku sepi. Begitu sering aku ditertawakan, begitu banyak orang-orang yang
terus membicarakan, namun mereka tak beda dan tak lebih dari omong kosong yang sesaat
hanya hidup dalam harapan. Aku berteman dengan sesal, keluh, kecewa, asing, hampa,
sendiri, dan ada beberapa lagi yang tak kusebutkan namanya di sini. Kami kerap kali
bermain meski di tempat yang ramai sekalipun. Tetapi dari pertemuan-pertemuan
itu, aku lah yang selalu dituduh menjadi biang keladi dari setiap kesah manusia-manusia
serigala.
Rabu, 06 November 2013
Selasa, 05 November 2013
SAJAK TULI
Kenapa harus kenapa?
Kenapa harus ada karena-karena?
Ke mana lagi aku sembunyi?
Mati kau mati!
Jakarta, 5 November 2013
Senin, 28 Oktober 2013
[PUISI] ISME: Keuangan yang Maha Esa
ISME: Keuangan yang Maha Esa
Oleh: Tri Em
Delapan puluh lima tahun sudah
kita bersumpah,
Pada waktu yang telah lampau
kini semakin muda semakin kacau
Wahai kalian
para tetua zaman,
Doktrin yang mana lagi
yang harus kami andalkan?
Paham-paham berdiri sendiri
tak peduli keadaan di sana-sini
Kami namakan isme-isme
sebagai pandangan Indonesia kami,
Selalu ada yang beda
pun lebih banyak yang tak sama,
Setiap hari di pedalaman,
dalam pikiran-pikiran,
dalam pertanyaan-pertanyaan
dalam pikiran-pikiran,
dalam pertanyaan-pertanyaan
Bangsa, tanah, bahasa, kami pertahankan!
Sementara mereka, para pejabat
bertahan di balik derita jutaan rakyat,
Sembunyi di tengah-tengah wajah kaum melarat!
Betapa piciknya konglomerat!
Betapa piciknya konglomerat!
Saat keadilan kembali disuarakan,
pejabat-pejabat itu hanya duduk memangku dasi
Mereka nikmati sisa-sisa hitam ampas kopi
Alih-alih kebijakan bebas koruptor,
Rekayasa undang-undang tikus-tikus kantor
Keadilan bagi mereka,
Keuangan yang Maha Esa
Berbahasa satu,
Bahasa politik yang satu,
Apakah ini Indonesia-ku?
Jakarta, 28 Oktober 2013
Langganan:
Postingan (Atom)

