Jumat, 14 Maret 2014

Rintik yang Terkenang

Di bawah langit ini
ada rintik yang tak henti
dari hujan di bulan Februari
Hujan yang datang
tanpa diundang, menyapa mereka
yang sedang duduk terkenang

Di bawah langit ini
rintik itu mulai membasahi,
dingin pada kepala dan isi
Tak peduli dengan benci
yang pernah berderai
kala mereka saling mengucap janji

Hujan di bulan Februari
jadi saksi dua orang kolot
duduk sorot-menyorot,
Bola mata beradu pandang
yang bisu, si lelaki tunduk
dalam seribu tanya 

Hujan di bulan Februari
kini hadir kembali,
Mengungkap sebuah tangis, kekasih
dan senyum simpul di wajah
memukul telak si lelaki,
Lagi, dan lagi...


Jakarta, 14 Maret 2014

Kamis, 20 Februari 2014

Meludahlah pada Tempatnya

Dari minor kepada mayor

Aku tulis sajak ini
dalam hitam di atas putih,
Di antara hidup atau mati
di antara melawan atau menyerah,
Di antara menang atau kalah
di antara benar atau salah

Otakku bukan otak udang
yang gampang saja bisa kau buang,
Ini kepala punya massa, punya berat
Tak sampai hati jika aku menjilat
Jilat, aku jilat ludahku sendiri
Biar sekalian hina tanpa perlu dikebiri

Cuih…
Kau meludah tanpa mengizinkan
aku untuk memilih,
Cuih…
Kau ludahi aku tanpa merasa
pernah mengabaikan letih,

Anjing menggonggong kafilah berlalu
Engkau sombong tiada kenal malu,
Air beriak tanda tak dalam,
Aku teriak kok kau jadi kelam?
Cuih…
Meludahlah pada tempatnya


Jakarta, 6 Februari 2014

Sabtu, 18 Januari 2014

Aku Tidak Koma

Setelah surat terbuka itu aku buat dengan sesakit-sakitnya, aku tak ingin terlalu berharap lagi kepada mereka. Mereka yang mengaku sebagai temanku, sebagai teman yang semakin lama semakin terasa jauh. Kau, temanku, apa lagi yang akan kau katakan setelah cukup jauh meninggalkan aku seorang diri, juga tanpa mau untuk peduli? Ingatkah engkau terhadap bekas luka yang tak kasat mata ini? Kau lihat aku jatuh, lalu bangun; dari rasa ingin berharap. Kau hanya diam, menatapku seolah-olah memang itulah yang kau inginkan. Tatapan iba, tatapan bukan selayaknya seorang teman, tapi pengemis!