Kamis, 20 Februari 2014

Meludahlah pada Tempatnya

Dari minor kepada mayor

Aku tulis sajak ini
dalam hitam di atas putih,
Di antara hidup atau mati
di antara melawan atau menyerah,
Di antara menang atau kalah
di antara benar atau salah

Otakku bukan otak udang
yang gampang saja bisa kau buang,
Ini kepala punya massa, punya berat
Tak sampai hati jika aku menjilat
Jilat, aku jilat ludahku sendiri
Biar sekalian hina tanpa perlu dikebiri

Cuih…
Kau meludah tanpa mengizinkan
aku untuk memilih,
Cuih…
Kau ludahi aku tanpa merasa
pernah mengabaikan letih,

Anjing menggonggong kafilah berlalu
Engkau sombong tiada kenal malu,
Air beriak tanda tak dalam,
Aku teriak kok kau jadi kelam?
Cuih…
Meludahlah pada tempatnya


Jakarta, 6 Februari 2014

Sabtu, 18 Januari 2014

Aku Tidak Koma

Setelah surat terbuka itu aku buat dengan sesakit-sakitnya, aku tak ingin terlalu berharap lagi kepada mereka. Mereka yang mengaku sebagai temanku, sebagai teman yang semakin lama semakin terasa jauh. Kau, temanku, apa lagi yang akan kau katakan setelah cukup jauh meninggalkan aku seorang diri, juga tanpa mau untuk peduli? Ingatkah engkau terhadap bekas luka yang tak kasat mata ini? Kau lihat aku jatuh, lalu bangun; dari rasa ingin berharap. Kau hanya diam, menatapku seolah-olah memang itulah yang kau inginkan. Tatapan iba, tatapan bukan selayaknya seorang teman, tapi pengemis!

Kamis, 26 Desember 2013

SAJAK SEORANG PLAGIAT


SAJAK SEORANG PLAGIAT
Oleh: Tri Mulyono

Dari dan kepada para plagiat...

Inilah sajak
Kutulis dengan serius membajak
Yang langsung bisa kutebak
Jika aku bukan orang bijak

Mudah sekali
Mengakui, menilai, dan menghakimi
Dan aku salah lagi
Sebab sudah jujur terhadap sepi sendiri

Aku bertanya-tanya kepada dunia
Tapi pertanyaanku kini hanya tinggal kata
Dari sekian banyak nama
Selalu aku bagai anjing betina

Ini bukan tabiat giat
Aku juga tak betah tersesat
Dan doa ingin cepat taubat
Pun bukan—bukan seorang plagiat

Jakarta, 26 Desember 2013