Selasa, 03 Juni 2014

Mencari Kepulangan


Malam jatuh tepat di atas kepalaku
Meruntuhkan segala harap
pada hari yang masih baru
Berkunang-kunang mataku
mencari kepulangan
Bagai angin melenggak malu
dari debu dan aspal jalan

Belum waktunya
Belum waktunya aku pulang

Matahari muncul menyilaukan mimpiku
Menyeret pagi hingga ke tepian Bumiayu
Kuhisap sebatang rokok
Kumaknai sendiri apa arti dari kepulangan

Orang-orang menuntut hak para kuli kemudi
Karena mesin bus macet
Lalu kami terdampar di alam yang indah
Namun, entah kenapa mereka jadi kolot
oleh ideologi masing-masing
Sementara aku di antara mereka
Berdiri menenteng derita
Menyangsikan sendiri sifat-sifat manusia
Anak kecil menangis di gendongan ayahnya
Dan ayahnya kebingungan
bagaimana cara membuat ia kembali tertawa

Belum waktunya
Belum waktunya aku pulang

Tapi beberapa hari lalu
seorang perempuan memintaku menulis sajak
Maka kutulis saja sajak ini
Sajak yang pusing
di barisan detik pencarian yang genting

Bersama langit yang kembali membiru
Di depan pabrik pengerukan pasir
Aku merenungi kepulanganku

Bumiayu, 30 Mei 2014

Rabu, 28 Mei 2014

Kentut Seorang Cerpenis


Kentut Seorang Cerpenis

ALKISAH, di sebuah desa yang terletak di lereng Merapi, tersiar kabar yang menggemparkan seluruh rakyat Indonesia, kentut yang membuat seorang anak remaja seketika jadi pandai memaknai beberapa bahasa. Seorang anak remaja yang tadinya kesulitan jika mengucapkan huruf R, bahkan kini ia menjadi seorang penulis yang menginspirasi para pembacanya. Tak sampai sebulan novel anak itu laris di pasar perbukuan. Yang lebih mengejutkan lagi, dalam satu bulan setelah buku itu resmi ada di toko-toko buku besar, lalu habis, buku itu sampai tiga kali naik cetak dengan oplah seribu eksemplar per-cetaknya. Pencapaian yang luar biasa bagi seorang anak remaja yang baru kali pertama terjun ke dalam dunia kepenulisan!
Ketika anak remaja itu diwawancarai oleh salah seorang pembawa acara dari stasiun televisi terkemuka, lantas ia pun menceritakan tentang awal karier menulisnya.
Begini ceritanya…

SETAHUN yang lalu, saat sedang bahagia-bahagianya berpacaran, perempuan itu meninggalkan saya begitu saja. Saya gelisah. Saya patah hati seperti sebatang rokok yang potek karena ditaruh di kantung celana jin. Usut punya usut, ternyata pacar saya selingkuh dengan sahabat saya sendiri. Dada saya sesak, sementara saya tidak mengidap penyakit pernapasan.
Sepucuk surat diantarkan ke rumah saya melalui pos. Surat itu tertuju ke nama Arjuna Dewamata, yang tidak lain adalah nama lengkap saya. Tak ada isi yang begitu penting selain teman maya yang mengundang saya untuk menghabiskan liburan di rumahnya. Tanpa berpikiran yang macam-macam, esok harinya saya berangkat menuju Yogyakarta.
Teman yang mengirimi saya surat itu sudah menunggu di Stasiun Tugu setengah jam sebelum kedatangan saya. Karena belum pernah bertatap wajah secara langsung, maka ada saja kelucuan yang terjadi di antara kami. Saya mengira bahwa teman maya itu seumuran dengan usia saya. Nyatanya? Dia lebih terlihat seperti bujang lapuk daripada mahasiswa yang baru lulus S1, yang ditempuhnya selama empat belas semester. Ngeri!
“Tunggu apa lagi? Ayoh!” ajaknya sambil menatap saya yang mematung di pintu keluar stasiun.
Mas Bajang, begitu saya memanggilnya di dalam surat. Pernah di dalam surat saya menanyakan nama lengkap Mas Bajang, tapi ia menjawab apalah arti dari sebuah nama. Toh, katanya, tidak jarang penulis-penulis memakainya hanya untuk dinilai keren oleh diri mereka sendiri.
“Masih jauh?” tanya saya penasaran.
“Dua jam lagi!”
Mas Bajang fokus mengendarai motor matic-nya. Saya yang dibonceng di jok belakang hanya bisa menyaksikan suasana malam kota Yogyakarta. Dari tukang becak, kusir dokar, tukang ojek, para supir taksi, sampai bus-bus pariwisata yang bisu di depan gedung-gedung mewah. Pikiran saya melayang entah kemana. Dua jam lagi! Hampir delapan setengah jam saya duduk di kursi kereta dan saya harus duduk dua jam lagi!
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, Mas Bajang menyilakan saya masuk ke dalam rumahnya. Buku-buku tertata rapi pada rak masing-masing, diberi label huruf A sampai dengan huruf Z. Saya dipersilakan menempati kamar dengan jendela yang menghadap ke hamparan padi yang merunduk malu. Meski kamarnya tidak terlalu besar, paling tidak saya mencoba belajar melupakan bekas pacar saya. Belajar menyambung lagi hati yang patah akibat putus cinta.
Saya terbangun dari tidur sekitar pukul setengah delapan pagi. Matahari yang membangunkan tidur saya. Begitu membuka pintu kamar, saya melihat Mas Bajang dan beberapa orang yang tidak saya kenal, khusyuk membaca buku di ruang tengah. Ada yang bukunya direbahkan di pangkuan seraya menyandarkan tubuh pada dinding berwarna biru langit. Ada juga yang memegangnya tidak dengan tangan kanan, melainkan dengan tangan kiri seperti sedang membaca kitab suci.
“Kelihatannya kau lelah betul?” sapa Mas Bajang saat saya menutup pintu kamar perlahan-lahan.
“Efek dari bangun tidur.” kata saya. “Aku permisi sebentar, Mas.” lanjut saya tanpa mengindahkan yang lain.
“Mau ke mana?”
“Ke kamar mandi. Mau ikut?”
“Sialan! Hahaha...”
Usai membasuh muka dan menyikat gigi, saya meminta izin ke Mas Bajang untuk sebentar berjalan-jalan mengelilingi desanya. Dia mengangguk sekali, lalu tersenyum simpul—membiarkan isi kepala saya berputar karena mencoba menafsirkan arti dari senyuman itu. Dengan senyum tanda mengizinkan, saya mulai berjalan menjauh dari pelataran rumah Mas Bajang.
Sepintas saya merasa ada yang ganjil dari orang-orang di desa Sukabuku. Ah! Saya baru ingat kalau desa Mas Bajang bernama desa Sukabuku! Pantas saja! Setiap saya berpapasan dengan warga-warga desa di jalan, mereka memandang saya aneh. Mungkin karena saya tidak membawa buku, maka mereka jadi bersikap begitu. Atau mungkin karena saya adalah orang asing bagi mereka? Entahlah. Banyak kemungkinan yang datang dan pergi dalam hidup ini.
Langkah kaki saya terhenti di seberang warung kopi yang menjadi batas antara desa Sukabuku dengan desa Sukacerita. Cacing-cacing di perut mendoktrin otak saya untuk segera memasuki warung kopi itu. Pergilah saya dengan menenteng perut yang meracau lapar. Juga masih tanpa membawa buku sebuah pun.
Tidak seperti orang-orang desa yang saya temui di jalan sana. Saya disambut hangat oleh pemilik warung. Tak ada tatapan aneh. Tak ada kecurigaan bahwa saya bukan berasal dari kedua desa yang mengapit tempatnya berjualan. Pemilik warung kopi itu terbilang pribadi yang ramah dan sederhana. Saya diajaknya mengobrol, dan terbuktilah kalau wawasan dan pengalaman pemilik warung itu sangat luas.
Dia menunjukkan tulisan-tulisannya yang ada di bingkai di seluruh dinding warung. Selang menuntaskan makan, saya membaca tulisan pemilik warung tersebut satu per satu. Yang membuat saya tertarik membaca semua tulisannya yaitu gaya tulisannya yang depresif. Tidak kelihatan dibuat-buat, bahkan saya mengategorikan cerita-cerita pendek pemilik warung itu ke hal yang tampak serius. Berbeda dengan kepribadiannya. Pemilik warung yang sekaligus penulis itu senang meledek saya yang patah hati karena suatu perselingkuhan. Tidak ketinggalan, ia juga meledek saya yang tidak jelas saat mengucapkan huruf R.
“Kamu cocok jadi pelawak. Ya, minimal jadi lakon wayang versi modern lah...”
“Saya tidak punya tampang lucu, Pak! Kenapa tidak bapak saja yang memewrankan lakon demikian?”
“Nah! Barusan itu lucu! Memewrankan... Hahaha...”
Senja mulai lenyap bersamaan dengan bedug azan magrib. Saya pamit undur diri ke pemilik warung dan berjanji bahwa besok akan singgah lagi di warungnya. Sampai di rumah Mas Bajang, dia menggeleng keheranan. Pergi ke mana saja saya, katanya. Saya pun menceritakan tentang sebuah warung kopi yang berdiri kokoh di timur desa. Mas Bajang tertawa mendengarkan ekspektasi saya terhadap pemilik warung itu.
“Besok aku temani kamu belajar menulis di warungnya.” ujar Mas Bajang.

ESOK harinya saya dan Mas Bajang meluangkan separuh waktu kami untuk bertandang ke tempat kemarin saya diledek. Pemilik warung itu antusias menyambut kami. Saya tidak lagi dipandang aneh oleh warga di desa Sukabuku. Sebuah novel berjudul Cinta Tak Pernah Tepat Waktu menyelamatkan saya dari jurang kenistaan. Nista karena saya tak membanggakan buku sebagaimana nama desa mereka: Sukabuku.
“Jadi sudah berniat menjadi pelawak atau lakon wayang versi modern?” tanya pemilik warung.
“Saya mau menjadi penulis saja, Pak! Mau memilih diksi yang tepat supaya tidak menggunakan abjad yang ada di tengah-tengah abjad Q dan abjad S.”
“Kok kamu jadi serius? Kan saya hanya bercanda?” Mas Bajang lalu menertawakan saya dan pemilik warung itu.
“Bapak kenal Puthut EA? Penulis yang novelnya best killer itu, lho!” sindir saya karena sudah tahu nama pemilik warung tersebut.
“Ah! Kamu ini bisa saja melucu! Hahaha...”
Saya dan Mas Bajang memesan kopi Lombok. Dia, pemilik warung yang juga penulis, kini tambah lagi sebagai ahli kopi! Memang betul-betul seorang penulis!
“Jun, asal kamu tahu... Dulu Bajang yang membuatkan kopi di warung ini. Selain itu dia juga yang mencuci piring, menjaga kebersihan warung, dan banyak lagi. Coba lihat dia sekarang! Sekarang dia jadi penyair! Hahaha...” Saya tertegun mendengar cerita dari Mas Puthut.
Tiba-tiba saya dan Mas Bajang mendengar sendawa dari bawah kursi pemilik warung tersebut. Sendawa yang mampu membungkam tawa seorang cerpenis. Meski tak ada bau kentut yang menganggu obrolan kami mengenai tulisan dan sastra, tapi kentut itu sudah saya arsipkan sebagai kerangka novel pertama saya.
Tiga bulan saya magang di warung kopi Mas Puthut. Banyak ilmu yang saya pelajari darinya. Kiranya kesuksesan seseorang tergambarkan dalam peribahasa; seumpama padi, semakin tinggi maka dia akan semakin merunduk. Begitu pula kehidupan seorang penulis. Dan betapa berartinya kentut seorang cerpenis bagi saya. Kentut bukan sembarang angin. Tapi kentut yang membawa beribu-ribu kata, serta menumbuhkan semangat untuk terus menulis dan membaca buku.
Kepada kalian yang sekarang sedang menonton saya di layar kaca, hidup tidak melulu soal patah hati dan kenangan-kenangan indah. Karena bagi saya, kenangan yang indah adalah kenangan yang seperti bunyi kentut.

Yogyakarta, 27 Mei 2014

Kamis, 17 April 2014

Masa, Karma, dan Cinta yang Lain

Ini adalah cerpen saya yang tak berpulang dan tidak ada konfirmasi bilamana cerpen itu tidak lolos seleksi/tidak sesuai dengan syarat mengikuti lomba cerpen Mantan Terindah. Sekarang judulnya sudah saya ganti. Selamat membaca!